08 Ogos 2010

RAMADHAN BULAN RAHMAT DAN BULAN KEAMPUNAN




Kedatangan bulan Ramadhan pasti dinanti-nantikan oleh seluruh umat islam.Ini adalah kerana bulan ini adalah bulan yang penuh dengan keberkatan.

Dibulan Ramadhan inilah telah diturunkan AlQur’an dan disyariatkan ibadah puasa. Selain daripada itu, di bulan Ramadhan terdapat satu malam yang dikenali sebagai “lailatul Qadar”.  Lailatulqadar adalah satu malam  yang lebih baik dari seribu bulan .

Tentunya sepanjang Ramadhan umat islam tidak akan melepaskan peluang beribadat mengharapkan rahmat serta keampunan daripada Allah.

Disamping kita taat menjalani ibadah puasa pada siang hari, kita juda digalakkan supaya  bersedekah, membaca AlQur’an serta mendirikan solat tarawikh dan menghidupkan malam dengan Qiamullail. Terdapat banyak  hadith yang menyentuh tentang kelebihan dan keistimewaan beramal  di bulan Ramadhan .

Sabda Rasulullah s.a.w  “ Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap redha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.  (Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Itu adalah salah satu hadith sohih yang menggalakkan kita supaya beramal di bulan Ramadhan, namun begitu terdapat juga hadith-hadith yang dipertikaikan akan kesohihannya seperti hadith yang diriwayatkan oleh  Ibn Adi, al aqaili dan Ad Dailami dari Abu Hurairah .


Maksudnya ;
Bulan Ramadhan, awalnya rahmah, tengah-tengahnya maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. 

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-'Uqaili dalam kitab khusus tentang hadits dha'if yang berjudul Adh-Dhu'afa'. Juga diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitabnya Tarikhu Baghdad. Serta diriwayatkan juga oleh Ibnu Adiy, Ad-Dailami, dan Ibnu Asakir.
Dari segi sanad, hadith ini diriwayatkan oleh  Sallam bin Sawwar  dari Maslamah bin Shalt  dari Az-Zuhri  dari Abu Salamah  dari Abu Hurairah  dari nabi SAW.

Dari rangkaian para perawi di atas, perawi yang bernama Sallam bin Sawwar dan  Maslamah bin Shalt   adalah perawi yang bermasalah.

Sallam bin Sawwar disebut oleh Ibnu Ady, seorang kritikus hadith, sebagai munkarul hadith. Imam Ibnu Hibban berkata bahwa hadith-hadithnya  tidak boleh dijadikan hujjah (pegangan), kecuali bila ada rawi lain yang meriwayatkan haditsnya. Sila rujuk kitab Al-Majruhin.

Adapun Maslamah bin Shalt adalah seorang yang matruk. Matruk berarti ditinggalkan.
Hadith  matruk adalah hadith yang dalam sanadnya ada rawi yang pendusta. Dan hadith matruk adalah 'adik' kepada hadits maudhu' (palsu) . Dalam erti kata lain, hadits matruk boleh dikira sebagai hadith separuh  maudhu'.

Mereka Yang Mendhaifkan Hadith ini adalah
1. Imam As-Suyuthi
Beliau mengatakan bahwa hadits ini dhaif (lemah periwayatannya).

2. Syeikh Al-Albani
Beliau mengatakan bahwa riwayat ini statusnya munkar.

Catatan:
Hadith munkar sebenarnya termasuk ke dalam katogeri hadits dhaif juga. Sebagai hadits munkar, dia menepati urutan ketiga setelah hadith matruk (semi palsu) dan maudhu' (palsu).
Kesimpulannnya, haditsh ini mempunyai  dua nama. Pertama, hadits munkar karena adanya Sallam bin Sawwar. Dan  keduanya  hadith matruk karena adanya Maslamah bin Shalt

Hadith ini juga  diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Khuzaimah ( Ibn Khuzaimah )  daripada Salman pada turuq ( jalan ) yang lain . Namun ianya tidak dapat menguatkan hadith diatas kerana dua orang perawinya  dikatakan  daif, iaitu:

1. Ali bin Zaed bin Jud’an. Ia adalah Ali bin Zaed bin Abdullah bin Abu Mulaikah. Namanya Zuhair bin Abdullah bin Jud’an bin Amr bin Ka’ab bin Taim bin Murrah al Qurasyi at Taimi. Dia telah dinyatakan daif oleh para ahli hadis, antara lain: Abu bakar bin Khuzaimah mengatakan,’Aku tidak berhujjah dengannya karena ia buruk hafalan”. Tahdzibul Kamal XX: 434-445.

2. Yusuf bin Ziad an-Nahdi. Dia telah dinyatakan daif oleh para ahli hadis, antara lain: Al Bukhari dan Abu Hatim berkata,’Munkarul Hadits (hadisnya tidak halal diriwayatkan)”. Mizanul ‘Itidal, IV : 465.

Sungguhpun  Ibn Khuzaimah dalam kitab sohihnya telah meriwayatkan hadith ini,namun beliau  sendiri meraguinya apabila menyebut di awal bab itu dengan kata-kata "Jika sohih khabar ini" ( Rujuk ibn Khuzaymah)”,

والله أعلم

Tiada ulasan: